Kisah Istimewa Anak Cucu Orang 10

Sebutan Anak Cucu Orang 10 merupakan keturunan dari 10 orang datu (menteri) dari Banua Lima (di wilayah Amuntai) yang membela kerajaan Banjar pada saat “perang saudara” antara Sultan Tahmidillah II berhadapan dengan saudaranya sendiri Pangeran Suria, yang juga menghendaki kursi kerajaan Banjar.

Pangeran Suria yang didukung saudaranya yang lain Pangeran Ahmad, karena terancam, lantas bersembunyi di Alai. Sepuluh menteri pendukung Sultan Tahmidillah II berhasil memukul mundur pasukan lawan (para pendukung Pangeran Suria) hingga ke perbatasan Pasir.

Ke-10 menteri yang berjasa kepada Sultan Tahmidullah II itu terdiri dari Datu Tibul (Kabul), Datu Abu (Ayan Iberun), Datu Bahala Kiai Maya Ciara (Kiai Maya Citra), Datu Subul, Datu Wira Laksana, Datu Miskin (Maskarf atau Masakar), Datu Mahul (Bamail), Datu Uda Pati (Dipati), Datu Rukul Sutakuan (Sutaprana) dan Datu Jahang (Julang).

Atas jasanya-jasa kepada kesultanan Banjar itu, Sultan Tahmidillah memberikan penghargaan dan membebaskan segala pajak bagi anak cucu dan keturunan dari ke-10 menteri tersebut. Turunan 10 datu ini terkenal sebagai pahlawan yang berani dan setia kepada raja.

Pada zaman Perang Banjar, sikap politik Anak Cucu Orang 10 terpecah-pecah. Sebagian besar memihak rakyat dan Sultan ikut berjuang serta kehilangan hak-haknya. Tapi kelompok Adipati Danuraja memihak Belanda dan beserta prajuritnya mengamankan Banua Lima. Kelompok Danuraja inilah yang meneruskan hak-hak istemewa golongan Anak Cucu Orang Sepuluh dan bebas rodi dan pajak dalam pemerintahan Belanda kolonial setelah tahun 1865.

Di permulaan abad ke-20, Anak Cucu Orang 10 banyak yang keluar daerah Banua Lima. Ada yang merantau  sampai ke Tondano (Sulawesi). Mengingat hak-hak istimewa turunannya, mereka keberatan dipaksa kerja rodi, sehingga menimbulkan gelombang protes kepada pemerintah Belanda di Betawi. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah Belanda lantas meneliti kembali silsilah turunan mereka  yang bersangkutan untuk menetapkan berhak tidaknya mereka bebas rodi.

Guru Sanusi, salah satu keturunan Anak Cucu Orang 10 pernah membuat repot pemerintah Belanda karena perlawananannya menolak soal erakan (rodi) dan pajak. Pemberontakan Guru Sanusi ini terjadi tahun 1914-1918. Akibatnya, selama empat tahun penuh dia diburu oleh Belanda. Guru Sanusi yang juga guru tasauf ini lari menyelamatkan diri dari Amuntai ke Margasari, Bakumpai dan besembunyi di daerah Tangkas di Sungai Batang Martapura. Untuk menangkap Guru Sanusi, Belanda mendatangkan serdadu marsose dan Macan Aceh Letnan Christoffel, yang akhirnya dapat menembak mati Guru Sanusi karena pengkhianatan seorang anak muridnya yang memberitahukan tempat persembunyian Guru Sanusi kepada Belanda.

Ketetapan pemerintah Belanda pada 1931, membebaskan kelompok Anak Cucu Orang 10 dari wajib rodi bila pada tahun 1927 mereka memang bebas rodi. Ordonansi Erakan untuk Keresidenan Selatan dan Timur  Pulau Kalimantan (Stb. 1927 No 203 diubah dan ditambah oleh Stb 1931 No 483) menyatakan bahwa “jang diseboet “anak tjoetjoe orang sepoeloeh” sekedar pada waktoe moelai berlakoe ordonansi ini, mereka itoe bebas dari pada kewadjiban berodi. Aly (berbagai sumber)

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

0 Komentar





Validasi

Kuku Bima ENER-G!

Amplang Mia Lestari
 

 

Web Statistik

Total Kunjungan : 299508
Kunjungan Hari Ini : 339
Online User : 2
Last Update : 20-04-2014

kirim kabar ke : [email protected]

Peluang Bisnis Agen Tiket Pesawat Online

 

 

 

 

[Get This]