Banjarmasin 0,16 Meter dpl

Wisatawan mancanegara di Sungai Antasan Kecil.

Banjarmasin adalah ibu kota Kalimantan Selatan, sebuah kota dagang yang berkembang sejak abad ke-16. Banjarmasin sebagai pintu gerbang utama Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dahulu dikenal karena lada dan hasil hutan lainnya.

            Secara geografis Kota Banjarmasin terletak di antara 3 derajat 15 Lintang Selatan sampai 3 derajat 22 Lintang Selatan dan 114 derajat 98 Bujur Timur, pada ketinggian rata-rata 0,16 meter di bawah permukaan laut (dpl). Pada waktu terang bulan air laut bagian selatan naik ke sungai, pantai, dan menggenangi jalan-jalan yang rendah permukaannya di Kota Banjarmasin. Air laut yang pasang ini disebut “banyu pasang”. Jika banyu pasang teramat dalam disebut “pasang ramban”, dan kalau pasang terjadi dua kali sehari semalam disebut “pasang pindua”.

            Pada waktu musim kemarau panjang air pasang ini naik membawa air asin, yang diucapkan oleh orang Banjar muara atau kuala sebagai “masin”. Hal ini pula menurut versi penduduk setempat melahirkan nama Banjarmasin.

      Sebagaimana daerah lain yang letaknya dekat dengan daerah khatulistiwa, Banjarmasin termasuk daerah yang berudara panas, iklim tropis, lembab dan umumnya banyak turun hujan, terbesar bulan Desember-Januari dan terkecil dalam bulan Juli-Agustus.

            Banjarmasin mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Masing-masing dapat disebut musim timur yang menghembuskan agin yang membawa hawa panas dan musim barat yang membawa hawa dingin dan mengandung basah. Keadaan suhu rata-rata antara 26 derajat C hingga 34 derajat C.

 

Sungai Barito dengan latar belakang Pulau Kembang

    Sesuai dengan keadaan alamnya Banjarmasin dialiri oleh banyak sungai besar dan kecil yang kesemuanya dimanfaatkan untuk sarana perhubungan antar kota, desa dan daerah. Di antaranya adalah Sungai Barito yang terbesar, Sungai Martapura dan sungai-sungai kecil lainnya.

        Dekat muara Sungai Barito terdapat pulau-pulau yaitu Pulau Bakut, Pulau Kembang, Pulau Tempurung, Pulau Tamban, Pulau Alalak dan Pulau Kaget. Di antara pulua-pulau itu Pulau Kembang yang terkenal dipandang keramat oleh sebagian orang Tionghoa di Kalimantan Selatan. Pulau ini seluruhnya didiami oleh kera-kera yang dipandang keramat, diberi sesaji, kemenyan, makanan dan buah-buahan. Kota Banjarmasin sendiri terletak pada sebuah pualu atau delta yang disebut Pulau Tatas, letaknya tidak jauh dari Muara Barito.

      Hoone, seorang ahli geologi yang melakukan penelitan tentang Kota Banjarmasin, berkesimpulan bahwa pada kedalaman 4,5 meter sampai dengan 11 meter, jenis batuannya empuk, hitam, lumpur, dan tanah liat dengan batang pohon rapuh. Pada kedalaman 26 meter sampai dengan 33 meter ditemukan tanahmerah. Tanah liat warna kelabu sampai kedalaman itu merupakan bentuk batas-batas geologis. Sampai kedalaman 50 meter terdapat olioceenlogen di atas zaman kuartair.

            Kota Banjarmasin memiliki luas lebih kurang 72 km persegi atau 7.207 Ha. Pusat kota terletak di suatu dataran delta di muara cabang Sungai Barito dan keadaan tanah hampir seluruhnya merupakan rawa-rawa dan kadang-kadang digenangi air. Aly

 Sumber: Ramli Nawawi dkk, Sejarah Kota Banjarmasin.

Kiriman terbaru

Halaman Terkait

0 Komentar





Validasi

Kuku Bima Energi

Amplang Mia Lestari

Sasirangan Limited Edition

 

Web Statistik

Total Kunjungan : 387884
Kunjungan Hari Ini : 268
Online User : 4
Last Update : 24-07-2014

kirim kabar ke : [email protected]

Peluang Bisnis Agen Tiket Pesawat Online

 

 

 

 

 

[Get This]